Saturday, October 3, 2009

SABAR???!!!!!

"sabar ya..", 'ya udah yang sabar ya..',"sabar pasti akan datang waktunya.."
Serasa begitu mudah kata itu terucap dari mereka...kucoba menjalaninya setahun,dua taun,tiga taun,lebih tapi kenapa ketika sampai di titik kulminasinya,rasanya begitu sulit untuk ku bertahan.Sebenarnya Tidak salah apa yang mereka sarankan.Karena memang sudah ada tuntunannya.Andai aku jadi mereka mungkin dan pastinya ku sarankan yang sama walau berat,karena aku sendiri kadang susah melakukannya.
Tapi apa yang bisa kita lakukan lagi selain kata itu setelah kita berusaha dan berdoa??kita tidak bisa lakukan apa-apa.Walau sampai rasanya usaha yang kita lakukan sudah maksimal.kadang kita lakukan usaha yang gak masuk akal.jauh dari nalar kita.Gila memang..Tapi kita hanya bisa menunggu hasilnya dengan SABAR,lagi lagi dengan kata SABAR.
Jika penantian ato kesabaran itu terasa sudah terlalu lama maka kejenuhan itu datang dan kesabaran itu lenyap menjadi emosi yang menjadi jadi.menyalahkan kenapa apa yang kita ingini belum juga datang.Lalu siapa yang salah??apa yang salah??apa salah kita??masih kurangkah usaha dan doa kita??Entahlah sulit memang...
Setebal dan sekuat apapun iman seseorang apakah pernah merasakan titik kejenuhan dari kesabaran yang ia jalankan??
Smoga kita bisa terus bertahan..............amien

Friday, October 2, 2009

Profesional

Nyari di http://kamus.kbbi.or.id/ nemu hasil "kosakata baru" alias nggak ada kata itu dalam kamus besar bahasa indonesia. Mungkin karena termasuk dalam kata colongan dari bahasa asing kali ya.... :D

Jadi memilah milah sendiri dengan kemampuan otakku yang terbatas ini tentang arti kata profesional. Menurut ku profesional itu adalah suatu tindakan seseorang dalam melaksanakan tugas-tugasnya dengan tanpa mencampuradukkan berbagai kepentingan dan rasa pribadi di dalamnya. Ato dengan kata lain arti kata profesional adalah seseorang yang memiliki 3 hal, yang ketiganya mampu berjalan seiring dan sejalan (balance) serta berjalan tanpa ada satu unsur yang tertinggal atau mendominasi. Tiga hal tersebut adalah IQ, EQ, dan SQ (intellegent, emotional, dan spiritual Quotient).

Namun implementasi dari teori tersebut sepertinya susah banget. Nggak memungkiri kala bad mood mendera, timbul efek ke kerjaan juga walo nggak parah banget. Tapi sikapku itu di rasain ama rekan satu team ku. Dia bilang, cara komunikasi ku jadi nggak manusiawi. Hehhe.

Mengkutip kata "TEAM" disini, dalam sebuah tim butuh banget sikap profesional. Jika ujung tombak dari sebuah tim tidak mampu profesional, bagaimana dengan anggota team nya??

Tanggung jawab seorang pimpinan memang lebih banyak dibandingkan para staff nya. Maka dari itu, fokus merupakan satu hal yang sangat mutlak dimiliki oleh seorang pimpinan. Dan fokus itu sendiri akan mengarah pada sikap yang profesional. Bukan lah seorang tipe pimpinan yang baik jika untuk hal-hal yang krusial diserahkan sepenuhnya kepada staff di bawahnya. Apalagi jika ditambahkan dengan adanya kesalahan ditanggung sepenuhnya oleh staff tersebut dengan embel-embel "saya sudah mempercayakan sepenuhnya kepada kamu". Wah... kalo dari sisi staff pasti sangat menyulitkan, karena tanggung jawab yang diserahkan padanya bukan lah termasuk dalam job desc nya. Dan bukan si staff ini yang meminta untuk diberi kan tanggung jawab ini. Mungkin akan lain reaksinya jika si pimpinan bersikap profesional. Dalam artian, memberikan tanggung jawab kepada staff tersebut dengan tidak diikuti "lepas tangan".

Ada yang bilang sukses dan hancurnya seseorang lelaki karena harta, tahta dan wanita. Untuk alasan hancur paling banyak sepertinya wanita. Tak jarang kita jumpai pimpinan yang telah memiliki harta dan tahta, namun tunduk pada makhluk yang disebut wanita. Seperti drama korea yang kutonton selama ini, seorang cowok rela resign alias keluar dari perusahaan karena cintanya pada seorang wanita. Di indonesia pun tak jarang lo... Bahkan pimpinanku langsung sepertinya juga kena syndrom yang satu ini. Dan syndrom ini lah, yang membuatnya kurang profesional.... :(

Anyway.. apapun itu alasan kita menjadi kurang ato bahkan tidak profesional, saatnya untuk instropeksi diri dan semoga bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi..

FIGHTING !!!!

Tuesday, September 29, 2009

KomitmeN

Tergelitik ama pertanyaan yang kulontarkan sendiri saat salah seorang sahabat mengatakan takut pada komitmen. Kalo dipikir pikir, mungkin pertanyaan itu muncul karena adanya rasa takut atas kekecewaan pada komitmen itu. Ato lebih tepatnya adalah memuaskan egoisme diri sendiri untuk pembelaan kala menemukan seseorang yang lebih menarik dan menggiurkan untuk dimiliki namun tetap pada kondisi tanpa status

Ada rekan kantor yang mengalami hal serupa, dia pernah berkata "menjadi orang ketiga memiliki sensasi tersendiri". Hm..... perlu ditelaah pernyataan ini. Memang cukup memicu adrenalin karena menjalani hubungan yang sembunyi-sembunyi. Tapi tak selamanya kan selingkuh itu indah, pastilah lebih banyak makan ati bagi pihak ketiga nya ato bahkan semua pihak.

Adalagi kawan di kampus, cowok mungil yang imut. Ku pikir kami berkawan dan hampir pada tahap kawan dekat, namun tak pernah terlintas pada tahapan "boyfriend". Tiba-tiba menyalah artikan perhatianku pada kata komitmen. Hm... keGRan yang berlebihan nih.... Kengototannya atas tidak mau adanya komitmen ini membuatku bertanya "U ga ngajak aku TTM an kan?" dan tak kusangkan yang ada adalah jawaban "YA".

Hm.... fenomena yang memang lagi musim banget kayaknya. At least di sekitar lokasi ku tinggal sekarang. Ada beberapa case yang bisa dikatakan "menyelip di tikungan", dalam arti lebih tertarik mendekati cewek yang sudah memiliki pacar. Ada yang menikmati masa kedekatan dengan tanpa menyinggung pasangan ( pasangan TTM ) tentang kondisi pacar masing-masing. Ada yang mengeluhkan sangan menyakitkan berada di posisi pihak ketiga. Ada yang merasa memang mengasyikkan menjadi pengganggu hubungan harmonis orang lain. Untuk yang ketiga ini sepertinya bisa dibilang penyakit, mungkin sejenis kleptomania kali ya...? hehhehe

Tapi apapun itu, tetap terasa menarik jika membahas perkara "LOVE". So... entah apa arti komitmen bagi tiap orang? yang pasti akan ada jawaban jamak mengenai nya.... karena memang luas artinya

Wednesday, July 15, 2009

GR yang berlebihan

Kala kita merasa nggak nyaman dengan seseorang, secara manusiawi kalo memutuskan untuk lebih mengambil jarak. Hidup cuma sekali... so cari sesuatu yang membuat kita nyaman dalam menjalani kehidupan adalah suatu hal yang wajar.
kalo ada pertanyaan "la u sapa?", kembali berkaca dulu ada baiknya. Kalo misal kita nyuekin seseorang karena sifatnya bukan berarti itu memusuhi kan? Toh kalo orang tersebut menanyakan sesuatu, kita tetep menjawabnya. Kalo orang tersebut menyapa, dijawab juga. Bukan melakukan sesuatu seperti kala orang itu lewat di depan mata lalu kita meludahinya.
Cukup susah kah membedakan kata memusuhi dengan menghindari. kalo memang kita sampai melakukan tindakan yang membuat orang tersebut merasa rugi, itu baru bisa di katakan memusuhi. Kok kepedean banget kalo sampai ada orang berpikir, kita menghindari karena berharap dia berubah. Ya kembali ke pertanyaan awal "Lha kon sopo??"
So... like u said.. Jangan main Blaming lahhh.....

Thursday, June 4, 2009

Kantorku Yang Lucu

gini nih rasanya kalo sumpek ama kerjaan.
Ada juga ternyata instansi yang seperti ini. Dengan kebiasan segala sesuatu di timpakan pada satu orang saja. Awalnya menikmati kondisi yang sibuk banget ini. Tapi seiring dengan banyaknya komplain dari teman sekitar dan keluarga akan minimnya waktuku untuk mereka, aku baru menyadari kalo kerjaanku udah mulai overload sekarang. Bukan sekarang sih.. tapi dari awal emang udah di set demikian.

Jujur aja aku bersyukur dengan penghasilan yang kuterima sekarang. Karena setidaknya cita-cita ku untuk kuliah dengan uang sendiri berhasil kucapai pada akhirnya.Dan sekarang masih dalam proses menggapai pengakuan sebagai seorang sarjana.
Suasana kantor yang mulai berawan mendung dan kegundahan melanda hampir disetiap sudut dari masing-masing divisi yang ada. Instansi yang bergerak di bidang telekomunikasi sekarang memang memiliki banyak pesaing dari hari ke hari. Dan saling berpacu dalam meningkatkan kualitas dengan kondisi yang tidak memungkinkan. Lebih cenderung menurunkan tarif daripada meningkatkan kualitas. Dan parahnya diikuti para pelanggan yang cenderung memilih murah daripada mutu. Hal ini yang membuat aku salah satunya berkutat dengan segala hal yang tidak sesuai dengan promosi, komplain A dan komplain B hanya di tanggapi dengan saling lempar divisi. Support yang tidak terlalu ada membuat ku makin tercengang dan tertohok akan kondisi di sini

Hal paling parah dalam kondisi kantorku adalah adanya kesenjangan sosial yang tinggi.Pergaulan yang memaksa diri terpatri pada kata "kaum outsource babu para karyawan tetap" membuat ku makin tidak krasan berada di sini. Kadang aku berpikir apalah arti dari sebuah jobdesc jika setiap karyawan outsource hanya akan menjadi "sticky note" para karyawan tetap. Sticky note adalah jenis tipe seseorang yang akan segera datang saat dibutuhkan tapi akan dengan mudah ditendang saat kau tak lagi memerlukan. Ditambah kondisi yang tidak adanya pengakuan dari kaum atas tentang pekerjaan yang telah dilakukan. Jika seorang karyawan tetap melakukan kesalahan terasa dengan mudahnya ditemukan solusi.... tapi kala kaum outsource sepertiku melakukan kesalahan, ancaman di pecat datang.

Bagaimana mungkin seorang manager melontarkan kata-kata "kenapa bisa salah? saya tahu load kerja kalian banyak tapi diminimize lah kesalahan itu". Rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak. Apa tidak ada perkataan lain yang mampu memberikan motivasi daripada sekedar perkataan yang menimbulkan depresi. Bukankah saat load kerja makin tinggi dan dikejar target, muncul human error merupakan resiko. Ditambah seorang supervisor menyatakan "sepertinya harus refresh orang nih, ganti sdm yang baru" di kala bertemu kondisi yang tidak mencapai target. Tekanan demi tekanan hadir dalam dunia kerjaku. Wajah makin kusut dengan makin banyak tekanan dan makin berkurangnya nominal.

Aku kadang nggak habis pikir, apa emang kalo udah menempati posisi di atas. Susah banget memandang ke bawah, Memandang kondisi karyawan yang tak begitu penting bagi mereka. Dengan aji-aji "kalo u ga suka, u boleh keluar" mempertahankan karyawan dengan tingkat depresi yang tinggi. Mungkin aku bukan orang yang selalu berpandangan positif, tapi aku tak selalu berpandangan negatif. Karena pada kenyataannya kondisiku sekarang lebih beruntung dari pada para pengemis yang hanya bisa duduk di pinggir jalan sembari menengadahkan tangan...